Tampilkan postingan dengan label W. S. Rendra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label W. S. Rendra. Tampilkan semua postingan

Sajak-Sajak W.S Rendra II

SAJAK KENALAN LAMAMU
Oleh :
W.S. Rendra

Kini kita saling berpandangan saudara.
Ragu-ragu apa pula,
kita memang pernah berjumpa.
Sambil berdiri di ambang pintu kereta api,
tergencet oleh penumpang berjubel,
Dari Yogya ke Jakarta,
aku melihat kamu tidur di kolong bangku,

dengan alas kertas koran,
sambil memeluk satu anakmu,
sementara istrimu meneteki bayinya,
terbaring di sebelahmu.
Pernah pula kita satu truk,
duduk di atas kobis-kobis berbau sampah,
sambil meremasi tetek tengkulak sayur,
dan lalu sama-sama kaget,
ketika truk tiba-tiba terhenti
kerna distop oleh polisi,
yang menarik pungutan tidak resmi.
Ya, saudara, kita sudah sering berjumpa,
kerna sama-sama anak jalan raya.
……………………………

Sajak-Sajak W.S Rendra

AKU TULIS PAMPLET INI
Oleh : 
W.S. Rendra

Aku tulis pamplet ini 
karena lembaga pendapat umum 
ditutupi jaring labah-labah 
Orang-orang bicara dalam kasak-kusuk, 
dan ungkapan diri ditekan 
menjadi peng – iya – an

Apa yang terpegang hari ini 
bisa luput besok pagi 
Ketidakpastian merajalela. 
Di luar kekuasaan kehidupan menjadi teka-teki 
menjadi marabahaya 
menjadi isi kebon binatang

Apabila kritik hanya boleh lewat saluran resmi, 
maka hidup akan menjadi sayur tanpa garam 
Lembaga pendapat umum tidak mengandung pertanyaan. 
Tidak mengandung perdebatan 
Dan akhirnya menjadi monopoli kekuasaan

Aku tulis pamplet ini 
karena pamplet bukan tabu bagi penyair 
Aku inginkan merpati pos. 
Aku ingin memainkan bendera-bendera semaphore di tanganku 
Aku ingin membuat isyarat asap kaum Indian.

Aku tidak melihat alasan 
kenapa harus diam tertekan dan termangu. 
Aku ingin secara wajar kita bertukar kabar. 
Duduk berdebat menyatakan setuju dan tidak setuju.

Kenapa ketakutan menjadi tabir pikiran ? 
Kekhawatiran telah mencemarkan kehidupan. 
Ketegangan telah mengganti pergaulan pikiran yang merdeka.

Matahari menyinari airmata yang berderai menjadi api. 
Rembulan memberi mimpi pada dendam. 
Gelombang angin menyingkapkan keluh kesah

yang teronggok bagai  sampah 
Kegamangan. Kecurigaan. 
Ketakutan. 
Kelesuan.

Aku tulis pamplet ini 
karena kawan dan lawan adalah saudara 
Di dalam alam masih ada cahaya. 
Matahari yang tenggelam diganti rembulan. 
Lalu besok pagi pasti terbit kembali. 
Dan di dalam air lumpur kehidupan, 
aku melihat bagai terkaca : 
ternyata kita, toh, manusia !

Pejambon Jakarta 27 April 1978 
Potret Pembangunan dalam Puisi